fikri bagus 99
Jumat, 23 Maret 2012
Rabu, 21 Maret 2012
BANYUWANGI
Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Jawa Timur. Luasnya 5.782,50
km^2.
Wilayahnya cukup beragam, dari dataran rendah hingga pegunungan.
Kawasan perbatasan dengan Kabupaten Bondowoso, terdapat rangkaian Dataran
Tinggi Ijen dengan puncaknya Gunung
Raung (3.282 m) dan Gunung
Merapi (2.800 m), keduanya adalah gunung api aktif.[rujukan?]
Bagian selatan terdapat perkebunan, peninggalan sejak zaman Hindia Belanda. Di perbatasan dengan
Kabupaten Jember bagian selatan, merupakan kawasan konservasi yang kini
dilindungi dalam sebuah cagar
alam, yakni Taman Nasional Meru Betiri.
Pantai Sukamade merupakan kawasan pengembangan penyu. Di Semenanjung Blambangan juga terdapat
cagar alam, yaitu Taman Nasional Alas Purwo.
Pantai timur Banyuwangi (Selat Bali) merupakan salah satu penghasil
ikan terbesar di Jawa Timur. Di Muncar terdapat pelabuhan perikanan.
Transportasi
Ibukota Kabupaten Banyuwangi berjarak 239 km sebelah timur Surabaya.
Banyuwangi merupakan ujung paling timur jalur pantura serta titik paling timur jalur kereta
api Pulau Jawa.Pelabuhan
Ketapang terletak di kota Banyuwangi bagian utara, menghubungkan
Jawa dan Bali dengan kapal ferry, LCM, roro dan tongkang.
Dari Surabaya, Kabupaten Banyuwangi dapat dicapai dari dua jalur
jalan darat, jalur utara dan jalur selatan. Jalur utara merupakan bagian
dari jalur pantura yang membentang dari Anyer hingga pelabuhan
Panarukan dan melewati kabupaten Situbondo. Sedangkan jalur selatan
merupakan pecahan dari jalur pantura dari Kabupaten Probolinggo melewati Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember di kedua jalur tersebut tersedia bus
eksekutif (pattas) maupun ekonomi.
Terdapat pula moda transportasi darat lainnya, yaitu jalur kereta api
Surabaya - Pasuruan - Probolinggo - Jember dan berakhir di Banyuwangi.
Untuk transportasi wilayah perkotaan terdapat moda angkutan mikrolet,
taksi Using Transport serta colt yang melayani transportasi
antar kecamatan dan minibus yang melayani trayek Banyuwangi dengan
kota-kota kabupaten di sekitarnya.
Bandar Udara Blimbingsari di
kecamatan Rogojampi
dalam pembangunannya sempat tersendat akibat kasus pembebasan lahan, dan
memakan korban 2 bupati yang menjabat dalam masa pembangunannya yaitu
Bupati Samsul Hadi dan Bupati Ratna Ani Lestari. Dan pada tanggal 28
Desember 2010, Bandar Udara Blimbingsari telah dibuka untuk penerbangan
komersial Banyuwangi (BWW) - Denpasar (DPS) - Banyuwangi (BWW) dan
Banyuwangi (BWW) - Surabaya (SUB) - Banyuwangi (SUB), per tanggal 24
Agustus 2011 Maskapai Merpati Airlines membuka penerbangan dari
Banyuwangi dengan tujuan Surabaya, Semarang, dan Bandung.[rujukan?]
Penduduk
Penduduk Banyuwangi cukup beragam. Mayoritas adalah Suku
Osing, namun terdapat Suku
MaduraSuku
Bali dan Suku Bugis. Suku Osing merupakan penduduk asli
kabupaten Banyuwangi dan bisa dianggap sebagai sebuah sub-suku dari suku
Jawa. Mereka menggunakan Bahasa Osing, yang dikenal sebagai salah satu
ragam tertua Bahasa Jawa. Kesenian asal Banyuwangi adalah kuntulan,
gandrungseblang.
Suku Osing Banyak mendiami di Kecamatan Rogojampi, Songgon, Kabat,
Glagah, Giri, Kalipuro, Kota serta sebagian kecil di kecamatan lain.
(kecamatan Wongsorejo, Bajulmati, Glenmore dan Kalibaru) dan
Suku Jawa yang cukup signifikan, serta terdapat minoritas ,
jaranan, barong, janger dan
Bahasa dan budaya suku Osing banyak dipengaruhi oleh bahasa dan
budaya Bali.
Sejarah
Sejarah Banyuwangi tidak lepas dari sejarah Kerajaan Blambangan. Pada pertengahan abad
ke-17, Banyuwangi merupakan bagian dari Kerajaan Blambangan yang
dipimpin oleh Pangeran Tawang Alun.
Pada masa ini secara administratif VOC
menganggap Blambangan sebagai wilayah kekuasannya, atas dasar
penyerahan kekuasaan jawa bagian timur (termasuk blambangan) oleh Pakubuwono II kepada VOC. Namun VOC tidak pernah
benar-benar menancapkan kekuasaanya sampai pada akhir abad ke-17,
ketika pemerintah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan.
Daerah yang sekarang dikenal sebagai "kompleks Inggrisan" adalah bekas
tempat kantor dagang Inggris.[rujukan?]
VOC segera bergerak untuk mengamankan kekuasaanya atas Blambangan
pada akhir abad ke-18. Hal ini menyulut perang besar selama lima tahun (1767-1772). Dalam
peperangan itu terdapat satu pertempuran dahsyat yang disebut Puputan Bayu
sebagai merupakan usaha terakhir Kerajaan Blambangan untuk melepaskan
diri dari belenggu VOC. Pertempuran Puputan Bayu terjadi pada tanggal 18
Desember 1771
yang akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi. Namun pada
akhirnya VOC-lah yang memperoleh kemenangan dengan diangkatnya R.
Wiroguno I (Mas Alit) sebagai bupati Banyuwangi pertama dan tanda
runtuhnya kerajaan Blambangan.
Tokoh sejarah fiksi yang terkenal adalah Putri Sritanjung yang di
bunuh oleh suaminya di pinggir sungai karena suaminya ragu akan janin
dalam rahimnya bukan merupakan anaknya tetapi hasil perselingkuhan
ketika dia ditinggal menuju medan perang. Dengan sumpah janjinya kepada
sang suami sang putri berkata: "Jika darah yang mengalir di sungai ini
amis memang janin ini bukan anakmu tapi jika berbau harum (wangi) maka
janin ini adalah anakmu". Maka seketika itu darah yang mengalir ke dalam
sungai tersebut berbau wangi, maka menyesalah sang suami yang dikenal
sebagai Raden Banterang ini dan menamai daerah itu sebagai Banyuwangi.
Tokoh sejarah lain ialah Minak Djinggo, seorang Adipati dari
Blambangan yang memberontak terhadap kerajaan Majapahit dan dapat
ditumpas oleh utusan Majapahit, yaitu Damarwulan. Namun sesungguhnya
nama Minak Djinggo bukanlah nama asli dari adipati Blambangan. Nama
tersebut diberikan oleh masyarakat Majapahit sebagai wujud olok-olok
kepada Brhe Wirabumi yang memang keturunan dari kerajaan Majapahit.
Seni budaya
Kabupaten Banyuwangi selain menjadi perlintasan dari Jawa ke Bali,
juga merupakan daerah pertemuan berbagai jenis kebudayaan dari berbagai
wilayah. Budaya masyarakat Banyuwangi diwarnai oleh budaya Jawa, Bali, Madura,
Melayu,
Eropa dan budaya lokal yang saling isi mengisi dan akhirnya menjadi
tipikal yang tidak ditemui di wilayah manapun di Pulau Jawa.
[Kesenian tradisional
Kesenian tradisional khas Banyuwangi antara lain :
- Gandrung Banyuwangi
- Seblang
- Janger
- Rengganis
- Hadrah Kunthulan
- Patrol
- Mocopatan Pacul Goang
- Jaranan Butho
- Barong
- Kebo-Keboan
- Angklung Caruk
- Gedhogan
- Batik
Jenis kesenian tadi merupakan sebagian dari kesenian khas Banyuwangi
yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat.
Musik khas Banyuwangi
Gamelan Banyuwangi khususnya yang dipakai dalam tari Gandrung
memiliki kekhasan dengan adanya kedua biola, yang salah satunya
dijadikan sebagai pantus atau pemimpin lagu. Menurut sejarahnya, pada
sekitar abad ke-19, seorang Eropa menyaksikan pertunjukan Seblang (atau Gandrung)
yang diiringi dengan suling. Kemudian orang tersebut mencoba
menyelaraskannya dengan biola yang dia bawa waktu itu, pada saat dia
mainkan lagu-lagu Seblang tadi dengan biola, orang-orang sekitar
terpesona dengan irama menyayat yang dihasilkan biola tersebut. Sejak
itu, biola mulai menggeser suling karena dapat menghasilkan nada-nada
tinggi yang tidak mungkin dikeluarkan oleh suling.
Selain itu, gamelan ini juga menggunakan "kluncing" (triangle),
yakni alat musik berbentuk segitiga yang dibuat dari kawat besi tebal,
dan dibunyikan dengan alat pemukul dari bahan yang sama.
Kemudian terdapat "kendhang" yang jumlahnya bisa satu atau dua.
Kendhang yang dipakai di Banyuwangi hampir serupa dengan kendhang yang
dipakai dalam gamelan Sunda maupun Bali. Fungsinya adalah menjadi
komando dalam musik, dan sekaligus memberi efek musical di semua sisi.
Alat berikutnya adalah "kethuk". Terbuat dari besi, berjumlah dua
buah dan dibuat berbeda ukuran sesuai dengan larasannya. "Kethuk estri" (feminine)
adalah yang besar, atau dalam gamelan Jawa disebut Slendro. Sedangkan
"kethuk jaler" (maskulin) dilaras lebih tinggi satu kempyung
(kwint). Fungsi kethuk disini bukan sekedar sebagai instrumen ‘penguat
atau penjaga irama’ seperti halnya pada gamelan Jawa, namun tergabung
dengan kluncing untuk mengikuti pola tabuhan kendang.
Sedangkan "kempul" atau gong, dalam gamelan Banyuwangi (khususnya
Gandrung) hanya terdiri dari satu instrumen gong besi. Kadang juga
diselingi dengan "saron bali" dan "angklung".
Selain Gamelan untuk Gandrung ini, gamelan yang dipakai untuk
pertunjukan Angklung Caruk agar berbeda dengan Gandrung, karena ada
tambahan angklung bambu yang dilaras sesuai tinggi nadanya. Untuk
patrol, semua alat musiknya terbuat dari bambu. Bahkan untuk pertunjukan
Janger, digunakan gamelan Bali, dan Rengganis gamelan Jawa lengkap.
Sedang khusus kesenian Hadrah Kunthulan, digunakan rebana, beduk,
kendhang, biola dan kadang bonang (atau dalam gamelan Bali disebut
Reong).
Modernisasi pun tidak terelakkan dalam seni musik Banyuwangi, muncul
berbagai varian musik yang merupakan paduan tradisional dan modern,
seperti Kunthulan Kreasi, Gandrung Kreasi, Kendhang Kempul Kreasi dan
Janger Campursari yang memasukkan unsure elekton kedalam musiknya, dan
menjadi kesenian popular di kalangan masyarakat. Namun demikian,
sebagian pakar kebudayaan mengkhawatirkan seni kreasi ini akan menggeser
kesenian klasik yang sudah berkembang selama berratus-ratus tahun.
Masakan & Makanan Khas
Masakan khas adalah Rujak Soto perpaduan Rujak Uleg Jawa Timur yang
disiram dengan kuah Soto Babat serta ditaburi emping mlinjo serta sego
tempong nasi campur kas Banyuwangi. Oleh-oleh khas ialah Sale pisang
Ambon yang banyak diproduksi di kecamatan Songgon serta kue bagiak kue
kering yang berbahan dasar tepung sagu.
Sego Tempong adalah nasi dengan sayur-sayuran atau Kulupan(jawa)
dengan sambal super pedas biasanya dengan ikan asin. dinamakan sego
tempong karena sensasi sambalnya seperti di tampar.
Sego Cawuk/Sego janganan adalah nasi dengan sayur yang terbuat dari
kelapa diparut dengan sambal/gecok, konon ini adalah menu favorit Syekh
Siti Jenar.
Olahraga
Kabupaten Banyuwangi merupakan markas utama salah satu klub sepak
bola profesional Indonesia yang kini bermain di Divisi Utama Liga Indonesia,
yaitu Persewangi Banyuwangi. Persewangi
memainkan pertandingan kandangnya di Stadion
Diponegoro.
Objek Wisata
- Taman Nasional Alas Purwo
- Kawah Ijen
- Pantai Grajagan
- Pantai Plengkung
- Pantai Rajegwesi
- Pantai Sukamade
- Pantai Trianggulasi
- Pantai Blimbingsari
- Pulau Merah
- Watu Dodol
- Taman Nasional Baluran
- Telaga Umbul Pule
- Air Terjun Lider
- Kali Klatak
- Kolam Renang Jatisrono
- Gumuk Kancil
- Air Terjun Wonorejo
- Perkebunan dan Air Terjun Kalibendo
- Pemandian Taman Suruh
- Mirah Fantasia Waterboom dan Istana Burung
- Alam Indah Lestari (AIL) Rogojampi
- Taman Wisata Pancoran Rogojampi
- Desa Wisata Osing
tomorow you die
hai pembaca.. jalani hari ini sebaik mungkin dan se indah mungkin, berpikirlah kalau besok kamu akan mati. agar hari-hari yang kamu jalani terasa lebih berguna.., tolonglah sesama manusia karena kita satu keluarga..?? ok...!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
BANYUWANGI KU